Menelusuri Kota Tua Jakarta Bareng Tour Guide

Halo Sobat Mbak Lala, gimana puasanya? Semoga lancar jaya dan meraih kemenangan ya. Bulan Februari 2024, mbak Lala sempat mengikuti walking tour Oud Batavia EN Omstreken. Paket wisata gratis, menelusuri kota Tua Jakarta beserta bangunan-bangunan besejarahnya. Perjalanan di mulai dari Stadhuis van Batavia, Raad van Justitie, toko merah hingga De Javasche Bank.

Sebelum ceritain keseruan walking tour menelusuri Kota Tua Jakarta. Mari sedekit flash back gimana cara ikutan walking tour, gratis pula. Berawal dari follow akun instagram @kotatua.jkt Kemudian baca beberapa postingan dan nontonin reels nya, ter-infokan lah kalau ada walking tour gratis. Tercantum di bio instagram 5 Paket Wisata free guided Setelah itu lakukan pendaftaran dengan mengisi g-form dan nanti akan dihubungi sama pihak terkait, apabila terpilih.

Hari itu, cuaca enggak cerah alias rada mendung dan berangin. Bagiku enakeun banget sih cuacanya ga sepanas biasanya. Meski agak jarang berkunjung ke Kota Tua Jakarta, biasanya pas kesini pasti cuaca lagi panas, matahari mentereng banget. Saya dan 3 teman terpilih, menjadi tim telat datang karena kami ber-empat naik KRL. Jadi kami jalan berlima, 1 mba tour guide yang sangat ramah serta menjelaskan setiap part perjalanan dengan gamblang dan detail. Titik kumpul di KOTIC (Kotatua Tourism Information Center) Sampingan sama museum keramik dan seni rupa.

Mungkin bagi sebagian orang, ngapain capek-capek walking tour sejarah kan bisa dibaca via buku atau internet. Buatku, rasanya beda saat kita bener-bener berkeliling, mendengarkan pemaparan dari tour guide, melihat secara langsung Kota Tua Jakarta dimasa kini, serta interaksi dengan teman seperjalanan dan sekitar rasanya lebih nyata dan bikin kita mudah memahami sejarah. Apalagi ada istilah sejarah itu berulang, setidaknya dengan kita memahami sejarah, kita jadi tau polanya dan bagian mana yang berulang. Pemerannya bisa berbeda, namun benang merahnya bisa disimpulkan dan kita jadi lebih cerdas mengambil keputusan dimasa kini.

Kota Tua Jakarta, dulu dikenal dengan nama Batavia lama (Oud Batavia). Sekitar tahun 1526 pangeran Fatahillah dikirim oleh kerajaan Demak, untuk menyerang pelabuhan Sunda Kelapa yang kemudian dinamai Jayakarta. Kota ini memiliki luas 15 hektar dan memiliki tata kota pelabuhan. Nah, pada tahun 1619 VOC menghancurkan Jayakarta dan satu tahun kemudian VOC membangun kota baru dengan nama Batavia. Oleh karenanya, bagunan di sekitar Kota Tua serasa bergaya Eropa, tepatnya Belanda. Bentuk bangunan, jendela dan beberapa ciri khas lainnya.

Saat walking tour menyusuri Kota Tua Jakarta, kami mengelilingi Kali Besar (Grootegracht) Yang saat ini suda di revitalisasi menjadi lebih asri dan di pinggirannya terdapat area untuk duduk santai, pas buat menikmati senja. Kemudian Tour guide menjelaskan juga, terkait peristiwa berdarah di depan toko merah. Dulu pada masa VOC toko merah ini digunakan jadi rumah gubernur VOC, kemudian sempat beralih fungsi jadi hotel dan lainnya. Desain toko merah ini, kental sama gaya arsitektur Tionghoa, didominasi sama warna merah dengan nuansa oriental.

Toko merah jadi saksi bisu peristiwa berdarah, berupa pembantaian serentak (dalam semalam) Mayat-mayat korban pembantaian di tumpuk tepat depan rumah merah. Konon pembantaian berasal karena pihak VOC merasa iri pada etnis Thionghoa yang saat itu sukses berjualan dan berbisnis. Merinding banget bayangin kekejaman pembantaian kala itu.

Namun saat ini Toko merah menjadi salah satu tempat yang menarik untuk dikunjungi, didalam nya pada lantai 1 terdapat restoran yang bernama Rode Winkel. Kita bisa menikmati aneka makanan serta minuman, ditemani iringan musik jaman dulu, dilengkapi bangku dan meja dari kayu, terdapat banyak jendela dan lampu ala rumah mewah.

Saat itu saya dan ketiga teman hanya bisa berkunjung ke retstoran dan melihat area tangga, kamar mandi. Kami tidak bisa menaiki tangga dan berkunjung ke area atas. Vibes toko merah ini, terasa masuk ke area rumah mewah, bernuansa jaman dulu, namun sangat terawat.

Dari situ kami juga diajak ke tugu penurunan tanah, posisinya di jembatan dekat Kali Besar. Kami bisa melihat, penurunan tanah di Jakarta sejak 1974 hingga saat ini, tugu tersebut bertulisakan 2 bahasa : Bahasa Inggris dan tulisan Braille. Kalau lihat pergerakan penurunan tanah dari tahun ke tahun agak mengerikan juga sih.

Setelah melihat dan memperhatikan tugu penurunan tanah, kami berjalan lurus menuju Gang. Virgin, konon pada era VOC gang ini jadi area fashion show para konglomerat, naas nya mereka memamerkan para budak-budak yang mereka miliki serta jadi tolak ukur “wah dia hebat, sukses” dengan cara semakin banyak memiliki budak maka ia sukses, ngeri banget sih dan bikin kesel juga nih kelakuan bangsa onoh pada masa lampau.

Dari sini lanjut deh melihat megah dan kokoh nya Museum Sejarah Jakarta (Gouverneurskantor) terdapat beragam peristiwa mengerikan juga, pada era VOC bangunan ini jadi kantor Gubernur VOC dan pada area depan terdapat tempat untuk mengeksekusi kaum pribumi yang membangkang VOC. Lalu kami juga melihat dari dekat Museum Wayang Jakarta, yang dulunya merupakan bangunan gereja. Jika memperhatikan agak detail memang terlihat ya dari gaya arsitekturnya kalau ini merupakan gereja.

Di area tersebut juga banyak sekali bangunan lama yang masih kokoh. Jalan sedikit ke arah depan ada Museum Keramik. Walking tour free ini enggak termasuk biaya memasuki museum, jadi kala walking tour berakhir, saya dan ketiga teman melanjutkan membeli tiket Museum Sejarah Jakarta (harga tiket dewasa, lokal di weekend 15.000,- per orang) dan masuk juga ke museum Wayang (harga tiket dewasa, lokal di weekend 15.000,- per orang). Di museum Wayang, ada pagelaran Gamelan sangat menarik dan bikin betah pengunjung.

So, dari Walking tour ke bangunan-bangunan bersejarah Kota Tua Jakarta ngajak kita flash back dan kembali mengingat bahwa negeri tercinta ini pernah terjajah. Semoga di era modern ini, kita lebih peka dan cerdas dalam mengendus dan menyadari bahwa ada pihak-pihak yang sedang berencana atau sudah menjajah kita secara modern nih. Untuk direnungkan oleh masing-masing anak bangsa banget nih.

Jadi gimana, tertarik buat ikutan walking tour didampingi tour guide gak nih? Mbak Lala lagi bayangin, gimana rasanya walking tour pada saat bulan ramadan, berpuasa di Kota Tua Jakarta. Kalau cuacanya sama persis kaya pas Mbak Lala walking tour sih aman yak, akan tetapi gak kebayang kalau pas mataharinya lagi ceria nan mentereng, gerah dan panas pastinya. Tips buat ikutan walking tour : gunakan outfit yang nyaman dan menyerap keringat, bawa ransel, tumbler (bulan biasa), Payung, topi dan jas hujan, buat berjaga-jaga, kemudian gunakan alas kaki atau sepatu yang nyaman buat diajak jalan jauh dan jangan lupa pake sunscreen serta hand body lotion, supaya kulit tetap terjaga, semakin mantep kalau pakai kacamata anti radiasi atau kacamata hitam buat lindungin mata dari paparan sinar matahari secara langsung.

Oh, iya diseberang Toko Merah terdapat bus wisata yang siap mengantarkan pengunjung ke PIK. Kalaupun merasa kejauhan ke PIK, bisa naik bus ini sampai ke halte Djuanda dan jalan dikit sampai ke masjid Istiqlal. Have a nice day, lancar-lancar puasanya ya.

Yuk Subscribe!

Dapatkan artikel-artikel terbaru dari Mbak Lala langsung ke inbox kamu. Caranya cukup dengan isi kolom berikut dengan alamat email kamu yaach...

Bergabung dengan 5 pelanggan lain

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.