Pengalaman Berkesan Screening Film Home Sweet Loan

Pengalaman Berkesan Screening Film Home Sweet Loan Lalakitc blogger Latipah Rahman

Tepat dua hari yang lalu, mbak Lala iseng ikutan giveaway, bukan iseng sih lebih ke “Yakin deh kalau ikutan GA #AkuKaluna bakalan kepilih” Yeah, saat mau ikutan giveaway dan kuis ‘yakin menang’ jadi salah satu kuncian juga setelahnya pasti faktor keberuntungan dan rezeki. Alhamdulillah, malam kamis mbak Lala di mention sama akun instagram Home Sweet Loan dan rupanya mbak Lala jadi salah satu pemenang. 

Film Home Sweet Loan diadaptasi dari sebuah novel karya Almira Bastari yang memiliki tulisan bagus, menarik dan cerita yang diangkat terasa lebih realistis . Jujur aja mbak Lala belum baca novel tersebut sampai selesai, akan tetapi mbak Lala sudah baca review novel Home Sweet Loan dari seorang teman blogger yaitu mba Avi.

Melalui review novel dari mba Avi , bikin mbak Lala terbayang garis besar dari novel Home Sweet Loan. Mungkin karena sebuah kebiasaan, setiap kali mau nonton film yang di adaptasi dari novel pastilah mbak Lala tidak berekspektasi apapun terhadap film. Ibaratnya kosongin gelas lagi biar bisa menikmati film Home Sweet Loan dengan seutuhnya.

Rasanya pasti seneng banget dapat kesempatan nonton film Home Sweet Loan yang memang sudah dinantikan kehadirannya. Makin terasa spesial karena ini jalur screening, bisa nonton duluan jadi sebuah kebanggan tersendiri hehehe. Terpenting lagi, gratis kan tiketnya untuk cerita di blog memang pure keinginan mbak Lala secara pribadi alias bukan ngiklan.

Awalnya niat mau ajakin temen misal dapat dua tiket, ternyata hadiah giveaway kali ini hanya dapat satu tiket nonton saja. Lokasinya memang sering dijadikan tempat nonton screening film, yup di XXI Epicentrum. 

Sore hari, pihak penyelenggara sempat make sure via DM “Kak, apakah beneran bisa datang buat nonton?” Oh tentu iya. Dengan sigap mbak Lala membalas kalau mbak Lala bisa hadir pukul 18.45 sesuai ketentuan penyelenggara.

Drama Menuju XXI Epicentrum Untuk Nonton Home Sweet Loan

Qodarullah, saat perjalanan menuju XXI Epicentrum rupanya hujan turun lumayan deras. Melihat gmaps, akhirnya mbak Lala putuskan turun di stasiun Tebet dan lanjut naik busway. Berdasarkan panduan dari google maps mbak Lala lanjut naik Jaklingko 48A lalu turun di SMU 79 dan nyambung naik busway 6Q turun di Epiwalk Epicentrum dan lanjut jalan kaki sekitar 4 menit (280 meter). 

Setelah naik JAK 48A, mbak Lala turun di halte SMU 79 dan menunggu kedatangan busway 6Q. Sepuluh menit berlalu, busway yang lewat nomor 6C terus. Mulai gelisah karena jam menunjukkan pukul 17.35 WIB, hujan masih lumayan deras dan langit makin gelap. 

Kalau cek dari maps jalan kaki pun bisa aja, cuma masalahnya mbak Lala ke XXI Epicentrum tuh jarang banget. Terakhir kesana pas dapat undangan nonton screening film Teman Tapi Menikah 2 bareng suami, kala itu dapat dua buah tiket dan ke XXI Epicentrum pake motor, dibonceng paksu. Kebayang ya, dari pada kesasar yaudahlah sabarin nunggu busway datang. Sambil iseng sih pesen gojek, namun nggak dapat pengemudi terus nih biasa lah kalau hujan aplikasi ojek online suka alami error atau para pengemudi memang mematikan aplikasinya. 

Cukup lama nih nunggu busway 6Q, sekitar pukul 18.05 WIB busway nya tiba nih. “Alhamdulillah” Supaya tidak salah naik, mbak Lala bilang ke pengemudi TransJakarta “Pak, busway ini berhenti di Epicentrum kan?” Setelah tap in “Sudah nggak mba, dulu sih di Epiwalk. Sekarang sudah berubah rute” Ujar pak supir, alamakkkk “Tapi, mbak bisa kok jalan kaki. Lumayan jauh dikit” pak supir yang baik hati ini kasih arahan, okelah mbak Lala bersyukur beliau sangat membantu. 

Jalan nya serem banget euy, banyak parkiran pinggir jalan, pohon besar dan langit gelap disertai hujan. Supaya nggak salah jalan, mbak Lala nanya lagi arah dan jalan ke security dan setelah melewati jalan gelap itu akhirnya ketemu bangunan Epicentrum namun letak XXI nya emang nggak mudah dijangkau mesti jalan kaki lagi hiiiyyyyaaaa.

Ambil Tiket & Jam Pemutaran Film

Setiba di bioskop mbak Lala lanjut info ke bagian ticketing area box office kalau mbak dapat giveaway dan langsung dikasih selembar tiket nonton. Usai dapat tiket, mbak Lala lanjut cari mushola buat sholat magrib. 

Jalan menuju mushola pun lumayan jauh, mbak Lala bareng sama salah satu anak perempuan, perwakilan dari komunitas kesehatan mental ia seorang konselor. Obrolan kami mengalir natural, seru banget bisa ketemu anak muda perempuan yang smart dan punya jiwa sosial tinggi, di komunitasnya ia dan rekan-rekannya merupakan mahasiswi psikolog dan ada juga yang sudah lulus membuka sesi konsultasi via DM/Chat/telpon sampai video call secara gratis. Hanya saja memang sebatas menjadi konselor, bukan sebagai psikiater yang bisa kasih beberapa solusi terkait masalah yang dihadapi orang curhat. Sayangnya mbak Lala lupa minta no HP atau akun IG nya. Sungguh menyesal sekali, melupakan kedua hal penting itu. 

Nah, sekitar pukul 18.50 WIB mbak Lala dan seorang teman baru tiba di depan pintu studio 2. Namun rupanya belum ada tanda-tanda pintu teater dibuka. Agak sedikit kecewa karena pemutaran film ngaret lumayan lama. Pada tiket tertulis pukul 19.00 WIB namun realita baru memasuki bioskop sekitar 19.50 WIB dan pihak terkait baru keluar meminta maaf pukul 19.35 WIB. Kebayang ya, puluhan orang menunggu di depan pintu teater karena takut tiba-tiba dibuka dan film mulai. 

Di sini mbak Lala ketemu mba Vida, ia mewakili komunitasnya untuk menghadiri undangan nonton screening. Sempet ngobrol bahkan selfie buat menghilangkan rasa jenuh akibat nunggu pemutaran film yang lumayan ngaret. Yang mengobati “Ya, namanya tiket gratis” Dalam batin, supaya tidak dongkol. 

Pembukaan dan Kejutan di Screening Film Home Sweet Loan

Sebelum mulai nonton, ada kata sambutan dari MC dan taraaaa, di area atas rupanya ada Derby Romero (sebagai Danan), Yunita Siregar (sebagai Kaluna), Risty Tagor (sebagai Tanish), Almira Bastari (Penulis buku Home Sweet Loan) dan Idgitaf (Penyanyi original soundtrack Home sweet loan). Sontak penonton heboh, kegirangan termasuk mbak Lala. Huahhh seneng banget bisa melihat mereka dari jarak dekat. 

Secara keseluruhan, film Home Sweet Loan ini membahas terkait generasi sandwich yang memiliki impian ingin punya rumah sendiri hasil dari jerih payah atau uang gaji yang berusaha di tabung. Mengelola keuangan dengan sedemikian rupa. Bahkan ada satu kalimat yang menohok banget “Jadi orang biasa, punya mimpi aja mesti tahu diri”.

Film nya lumayan balance, ngebahas terkait konflik keluarga inti, pacar toxic, sifat pengalah, namun ada sahabat yang support. Perjuangan nyari rumah impian, proses menabung dan mencatat keuangan, ngasih pembelajaran dan menguatkan tekad kalau sandwich generation itu harus segera diputus, cut off supaya generasi berikutnya tidak terdampak secara lebih parah. Bisa kita rasakan lah ya sekarang, bagi para generasi sandwich yang harus berjuang makin keras saat kebutuhan dasar makin meroket sedangkan peluang menambah penghasilan tidak semudah beberapa tahun ke belakang. 

Film ini cukup realistis, mengangkat sebuah isu yang nyata ada disekitar kita. Komposisi drama nya tidak lebay, ada sedikit sentuhan kisah cinta yang sangat memikirkan masa depan. Beberapa part di film, sukses bikin ketawa para penonton dan bikin beberapa nangis sesegukan, endingnya lumayan plot twist. 

Untuk harga nonton per orang Rp30.000 – 40.000 di weekday, masih lumayan worth it banget. Kalau berharap bakalan nangis bombay, harusnya nggak sih. Semisal ada yang relate sama kehidupan nyata, mbak Lala malah bisa ngetawain sambil bilang dalam batin “Ya ampun ini gue banget, hahaha”. Bagusnya nonton film Home Sweet Loan ngajak keluarga terdekat sih, biar edukasi terkait generasi sandwich bisa lebih diterima dan menyadarkan. 

Setelah Menonton Screening Film Home Sweet Loan

Durasi film Home sweet loan sekitar 1 jam 52 menit. Disutradarai oleh Sabrina Rochelle Kalangie, di produksi Visinema Pictures, Legacy Pictures. Bisa ditonton pada 26 September 2024. Pas banget, momentum habis pada nerima gaji buat para pekerja. 

Usai film berakhir, Idgitaf naik ke atas panggung dan menyanyikan lagu soundtrack film secara live. Andai pencahayaan mumpuni dan kamera HP oke, pastilah dapetin momen spesial ini. Sayangnya kamera hp mbak Lala kalau di tempat gelap, auto gitu deh kurang oke hasil take nya meski sudah di setting pencahayaannya.

Selesai Idgitaf bernyanyi, para pemain film dan produser serta penulis novel pun naik ke atas panggung. Mereka menyampaikan beberapa poin terkait usaha dan upaya memutus rantai generasi sandwich lewat film. Bahkan produser hingga penulis pun, menonton film ini ngerasa begitu ngena banget. 

Pulang Tengah Malam & Kondisi Hujan Deras

Rupanya, saat keluar dari studio 2 di luar masih terjadi gerimis. Melihat intensitas nya yang tidak begitu mengkhawatirkan, mbak Lala putuskan pesen ojek online ke stasiun Tebet. Alhamdulillah, dapat pengemudi meski harus menunggu sekitar 5 menit. Sayangnya pas pengemudi tiba, hujan malah deras disertai angin. 

Melihat jam kian malam dan bapak pengemudi tidak keberatan menerjang hujan, maka mbak Lala mengiyakan buat terobos hujan. Naas, area Casablanka masih macet membuat perjalanan kami kian melambat. Rasanya kami sedang jadi penadah air hujan meski sudah pakai jas hujan, debit air hujan yang deras dan air di jalan raya sudah menggenang semata kaki semakin memperlambat laju kendaraan motor ini. Kasian banget bapak pengemudi, pasti kesusahan banget mengemudi dalam kondisi kayak gitu. 

Bersyukurnya beliau seorang pengemudi yang sabar serta tabah, tidak berkeluh dan berusaha memacu roda dua dengan teliti. Harus dikasih tip nih pengemudi modelan kayak si bapak. Setiba di Tebet, usai merapikan jas hujan dan bilang makasih mbak Lala lanjut jalan kaki dan mampir ke abang tukang cilok. Beli cilok sepuluh ribu, lalu masuk ke are gate stasiun Tebet. 

Nunggu kereta lumayan lama, membuat mbak Lala inisiatif ngabarin orang rumah buat segera tidur aja jangan nunggu mbak Lala sampe rumah. Feeling mbak Lala bakalan sampe Bogor dalam kondisi hari sudah berganti. Benar saja, sampe ke rumah sekitar pukul 00.05 WIB. Hiyaaaa, ini pulangnya malem bangetttt. Kalau ada tetangga usil bisa kena ghibah nih hahaha. Usai bersih-bersih langsunglah mbak Lala tidur, besok pagi sudah ada beberapa agenda yang butuh energi nih.

Kesimpulan & Kesan Menonton Film Home Sweet Loan

Secara keseluruhan teknik pengambilan gambar, dialog dalam film, oke banget kalau menurut pendapat mbak Lala. Sangat relevan dan akrab sama situasi keseharian, pada beberapa kalangan. Apalagi pengguna kendaraan umum dan pekerja kantoran yang tetap berusaha cari side job. Suasana kota Jakarta dalam keseharian tergambar epic deh. Para pemain, memerankan peran nya secara baik dan mumpuni. Meskipun part orangtua agak ada yang ganjel dikit sih hahahaa. 

Rating untuk film Home Sweet Loan dari mbak Lala 8/10 cukup balance dan kasih pembelajaran terkait keuangan, psikolog dan hubungan pertemanan. Rasanya cukup worth it buat ditonton bareng sama keluarga inti. Ajak keluarga inti nonton bareng-bareng, biar bisa memetik hikmah bahkan tersentuh dikit, syukur-syukur semua menyadari kalau generasi sandwich itu bisa dicegah dan jika terlanjur terkena, mari diakhiri jangan diteruskan ke generasi berikutnya. 

Seni mengatur dan mengelola keuangan pun, di sounding jadi keinget mba Ligwina Hananto seorang Financial planner & stand up comedy. Mbak Lala pernah ikuti kelas secara beliau offline terkait perencanaan keuangan dan juga nonton podcast beliau sama Raditya Dika. Mba Ligwina sempat menyampaikan kalau budaya Indonesia ini tuh masih kental gotong-royong nya. Termasuk dalam keuangan. Sayangnya tradisi ini seringkali agak merugikan si pihak penolong. Si penolong keuangan, kalau tidak membantu akan di cap tidak care sehingga menimbulkan rasa bersalah berlebihan padahal normalnya jika seorang saudara ada masalah keuangan seharusnya dikaji penyebabnya apa. Jika penyebabnya karena keteledoran dan ketidak hati-hatian maka, tidak apa jika menolak membantu. Beda hal jika terkena kesulitan efek musibah beneran. 

Membantu pun seharusnya tidak sampai membuat skala prioritas seseorang terkait keputusan keuangannya terpengaruh atau bergeser juga. Mungkin terkesan kejam dan egois, namun semua orang akan bertemu fase ekonomi merosot dan menanjak dan itu akan bisa dilalui jika dibiasakan menyelesaikan tanpa terlalu banyak dibantu. 

Bahkan terkait kesehatan mental setiap anak pun disinggung. Memvalidasi emosi itu wajar, supaya nanti kedepannya bisa lebih mawas dan waras. Bersyukur banget pastinya bisa dapat kesempatan nonton film jalur giveaway, meski sempat bertemu dengan hambatan, drama dan rintangan sebelum akhirnya memasuki bioskop untuk menyaksikan pemutaran film.

Semoga saja kedepannya semakin banyak film Indonesia yang bagus-bagus ya. Bukan hanya sekedar hiburan namun memberikan pembelajaran dan pesan-pesan bermanfaat. Jadi, pastikan teman-teman nonton film Home Sweet Loan di bioskop terdekat. 

Terkait dapat giveaway, alhamdulillah mbak Lala termasuk sering dapet nih. Mulai dari dikirim produk elektronik, jam, pakaian, buku, uang e wallet hingga tiket wahana dan juga tiket nonton.  Sebenarnya tidak semua giveaway itu tanpa modal sama sekali. Malah kalau harus pergi ke bioskop sudah pasti keluar biaya ongkos, waktu dan uang makan. Akan tetapi, selama hadiahnya menarik dan oke maka tidak ada salahnya tetap berkorban dari sisi ongkos serta uang makan ya. 

Seneng juga bisa melihat para pemain film dan penulis novel secara langsung, bahkan ada sesi bisa aja ajak mereka foto bareng tapi menyadari HP ini tidak mumpuni jadi mbak Lala urungkan buat ngajakin mereka foto bareng dan lebih bersiap pulang karena jarak tempuh ke rumah lumayan panjang dan jauh nih. 

Sobat mbak Lala, makasih banyak ya sudah berkenan membaca artikel terkait Pengalaman Berkesan Screening Film Home Sweet Loan. Semoga sedikit menambah gambaran terkait film nya dan nggak ada salahnya nanti nonton bareng keluarga tersayang. Buku nya pun sangat worth it buat dimiliki serta dibaca dengan seksama. Sampai ketemu di artikel berikutnya ya sobat mbak Lala, have a great day

Langganan Sekarang Juga

Yuk, berlangganan ke blog Lalakitc dan dapatkan update artikel-artikel terbaru langsung via email

48 komentar untuk “Pengalaman Berkesan Screening Film Home Sweet Loan”

  1. Wah… kapan nih release film Home Sweet Loannya kak? Sepertinya beneran berhasil menyentuh realitas banyak orang, terutama mereka yang terjebak dalam situasi sandwich generation.

    Terlihat sekali jika Film ini dengan apik menggambarkan perjuangan Kaluna dalam mengejar impian memiliki rumah sambil memikul tanggung jawab keluarga. Sesuai dengan realita hidup masa kini yes

    1. Nah iya, sebagai orang yang belum baca novelnya karena belum beli. Dengan adanya review novel Home sweet loan versi mba Avi ngebantu banget nih. Jujurly, awal bulan ada wish list pengen beli novelnya nih karena memang bagus dan realistis sangat.
      Iya, beruntung daku bisa ketemu sama Derby Romero pengen foto bareng tapi inget si HP kameranya burem kalau di tempat minim cahaya hehehe.

  2. Aku msh galau mau beli bukunya dulu atau nonton 🤣. Tapi nonton pun biasanya aku nunggu sampe masuk ke Netflix. Krn suami udh pasti ga akan mau kalo nonton film Indonesia.

    Kalo buku banyak yg bilang baguuus soalnya, makanya aku tertarik. Apalagi cerita di buku biasanya lebih detail kan.

    Serem amat pas hujan gitu mbaaa. Mana sampe rumah lewat tengah malam lagi yaa 😅

    1. Beli bukunya dulu mba, buku bisa baca berkali-kali bahkan disimpan dalam waktu yang lama. Kalau film, aku rasa kapan pun bisa nonton hehehe.
      Iya emang itu seharian beneran full hujan. Makin malem malah deres hehehe, rezeki nomplok lah istilahnya.

  3. Aku udah baca sih novel Home Sweet Loan ini. Malah kayak mau baca ulang gitu. Soalnya emang related banget. Kayak setiap bacanya tuh batin ikut bergumam. “Ah iya. Bener.” “Hooh.” “Aku banget nih”

    Semacam itu. Apalagi salah satu sahabat Kaluna kan ada yang jadi influencer juga. Di mana sekarang sudah nggak asing lagi mencari uang dengan jalan itu. Malah banyak yang sukses pula.

    Berasa pingin nonton filmnya akutu.

    1. Iya, aku pun malah kepikiran pengen segera beli buku nya. Nonton film nya aku udah nih. Iya ada banyak pembelajaran dan isu menarik dibahas pada film ini, semoga saja ramai penonton dan berdampak positif sehingga semakin berkurang generasi sandwich di negeri ini.

  4. Wah ini kapan tayang di bioskop mbak? Aku suka film yang relate sama kehidupan nyata. Apalagi klo ada pelajaran “financial planning”nya. Yg keren ide awal di novelnya yaa.

    Mbak Lala ini rajin ikut giveaway ya, makanya sering dapet dan yakin dapet aja. Mantap mbak, memang rejekimu banyak lewat jalur ini.

    1. Tayang 26 September 2024, setting alarm nya. Tanggal-tanggal baru gajian banget tuh. Ajak keluarga buat nonton barengan biar makin pada paham terkait generasi sandwich serta pengaturan keuangan setiap individu yang sudah mulai memiliki penghasilan.

  5. nggak nyangka aja kalau Home Sweet Loan bakalan di filmkan
    sebelum aku memutuskan membeli novelnya, banyak temen temen blogger yang ngereview, jadi aku penasaran. Dan ceritanya relate banget sama anak anak zaman now, konfliknya nggak jauh jauh dari kehidupanku juga
    penasaran pastinya pengen nonton visualnya nih

  6. Emang paling ngeselin deh kl ada acara apa2 yg melibatkan banyak pihak itu berujung ngaret. Apalagi kalau acaranya berlangsung di malam hari. Meleset semua perkiraan kita yang mikir jam segini udah di KRL and so on. Tp masih mending ngaret, aku pernah loh udah pegang tiket tp gak dikasih masuk dgn alasan yg gak jelas. *eh, jd curcol*
    Judulnya aja udah menarik ya, dan kepikiran aja gitu home sweet loan. Memang masalah keuangan sudah perlu dibahas nih, agar generasi muda tidak merasa kegencet harus seluruh keluarga dan tetangga (eh, gak lah).

    1. Hehehe, iya mba agak di sayangkan acara lumayan ngaret. Entah ada kendala teknis atau bagaimana. Waduh sampe gak di kasih masuk? Wah ngeri banget mesti ditandai penyelenggaranya, kok tidak profesional ya.

      Cuss 26 September ajakin keluarga buat nonton bareng film home sweet loan nya mba.

  7. Iya dong Lala harus positive dulu & yakin Insya Allah menang giveawaynya, Alhamdulllah ikut senang waktu lihat pengumuman di story Lala. Filmnya ternyata diadaptasi dari novel ya.
    Senangnya bisa ketemu langsung dengan pemain film & penulis novelnya Lala

  8. Seru ya sampai penulisnya pun hadir. Biasanya acara begini jarang lho penulis muncul paling ya artis dan kru produksi aja. Cerita Home Sweet Loan realistis banget sama kehidupan sehari-hari anak muda jaman now. Penonton berasa sefrekwensi deh sama tokohnya.

  9. Wahwaah, congrats ya mbaak.. Dapet kesempatan ikut screening film sekeren iniii!!
    Aku malah ngiranya mbak lala beli tiket, ternyata malah dapet rezeki ya mbakkk..

    Aku pun jadi ndak sabar nih nunggu filmnya. Kemarin baru aja ngelarin baca bukunya dan worth banget. Dari sisi premis dan konfliknya memang relate banget sama generasi sekarang.

  10. Asiik yaah, hadir ke screening film Home Sweet Loan.
    Karena selain nonton yang pertama juga ketemu sama semua pemeran, penulis bahkan penyanyi OST-nya. Mendengar langsung begini, selain lebih berkesan juga terasa antusiasme penonton terhadap karya anak bangsa.

    Sejujurnya, aku kadang sering galau kalau makna memberi ini dibenturkan dengan ilmu agama.
    Seharusnya gak berbenturan yaa.. kalau hatinya lebih bersih dan gak berharap imbalan apapun. Kudunya kalo mau nolong mah nolong aja yaa.. gak perlu berharap lain-lain.

    Semoga bisa memenuhi seluruh impian dengan kondisi keuangan yang terbaik.

    1. Alhamdulillahnya, meskipun acaranya sedikit kurang tepat waktu, tapi semuanya berjalan lancar dan bisa bikin bahagia pada akhirnya, hehehe..
      Selalu seneng sama reportase mba Lala.
      Dari mulai dapetin GA Screening Film Home Sweet Loan, ini uda mestakung banget sih yaa.. MashaAllaa~
      Wangi wangiii…

      1. Alhamdulillah..
        Meski ada beberapa drama nya hahahhaa, pemanis buat diceritakan kembali tetap bersyukur karena bisa menyaksikan film Home Sweet Loan lebih dulu. Sehingga makin mantap buat beli bukunya. Seberkualitas itu ternyata karya mba Almira Basatari. Selaku generasi 90 an aku salut deh sama beliau.

    2. Iya mba, norma agama kadang suka agak dipelesetin sama beberapa orangtua. Sebetulnya setiap anak pun menyadari untuk membalas budi, dengan membuat pos untuk memberi pada orangtua karena sebaik-baiknya perbuatan baik ya care sama orangtua. Namun ada nih yang jadi terlalu mengandalkan, bahkan tidak punya persiapan sama sekali menghadapi masa tua kemudian tetap harus terpenuhi segala kebutuhan gaya hidup. Aduh kan sebenernya kalau menuhi gaya hidup itu lumayan berat ya. Mana si generasi sandwich ini pun punya banyak wishlist kaya punya rumah sendiri, biayain keluarga (misal udah nikah), nyiapin dana pendidikan buat anaknya. Namun semua balik lagi ke rasa ikhlas serta kesadaran semua pihak sih.

      Harusnya semakin dewasa seseorang, maka ia tidak sepenuhnya bergantung sama oranglain apalagi sodara kandung yang sama-sama sudah bekerja, punya penghasilan. Seharusnya bisa mengelola keuangan dengan baik sehingga tidak terlalu menggantungkan diri sama keluarga, sodara dkk. Panjang sih yaaa, ada rasa tidak enak juga misal tidak bantuin. Gitu deh ya, rumit dan kejepit.

  11. Bagus juga sekarang ada film yang membahas generasi sandwich ini ya. Yang real banget banyak kejadian di masyarakat Kita. Alhamdulillah semoga bisa menyadarkan banyak orang soal kondisi ini. Walau drama proses nontonnya tapi senanglah ya bisa nonton duluan

    1. Iya, selalu ada cerita menarik di balik sebuah kisah seru hahaha. Nonton duluan pastinya bikin bersyukur dan bahagia juga, jadi enggak penasaran lagi. Relate sangat ceritanya, teknik pengambilan gambarnya pun oke. Semoga saja film nya pas 26 Sept laris ditonton muda-mudi hingga keluarga, supaya sama-sama menyadari untuk memutus mata rantai generasi sandwich.

  12. Wah Mba Lala udah nonton film Home Sweet Loan ya, pasti seru banget, pengen nonton juga filmnya, mba Lala ambil malam ya nontonnya atau memang ada faktor ngaret ya hehe, btw sampai rumah malam pastinya mba Lala, apalagi dalam kondisi hujan deras, alhamdulillahnya sampai rumah aman ya mba Lala

  13. Kayaknya perjalanan menuju bioskop sama nge-dramanya nih sama filmnya. Hahaha.. Saya tuh suka banget sama karya2nya mba almira. Tapi kalau di filmkan suka ga sesuai sama isi novelnya. Semoga yg ini sesuai ya

  14. Daku belum nonton filmnya ini
    cuma baru memantau aja yang sudah mengulasnya. mungkin pankapan bisa dijadwalkan hehe.

    Btw, perjuangannya Kak Lala ke epicentrum sesuatu banget ya.
    Alhamdulillah selalu dalam naungan-NYA.

    daku kalau ke Epicentrum, nggak yang busway (non BRT) dari arah pohon gede dan pernah denger ini bilangnya sih arah belakang.

    Tapi yang dari arah Rasuna Said (halte BRT busway). Memang agak jauh jalan kakinya, tapi lebih nyaman karena suka banyak orang yang jalan kaki, sehingga ini nanti munculnya dari depan mall epiwalknya.

    1. Iya kak, nanti pas senggang nonton aja. Tanggal 26 September tayang di seluruh bioskop.

      Nah, iya rute busway aku tuh ngandelin google maps. Ternyata banyak rute yang belum ke update euy kak. Jadi jalan kaki lumayan banget 😆 mana pas magrib gitu dan hujan.

  15. Saya belum sempet nonton film ini nih. Kayaknya seru nih. Apalagi cerita yang diambil tentang kehidupan yang relate dengan kita. Apalagi cerita tentang orang yang kerja di kantor terus ambil juga side job gitu. Kok saya kerasa banget, hahahaha.

  16. Wah perjalanan yang panjang menuju bioskop ya, Mbak. Tapi worthed banget kalo puas nontonnya.

    Film yang menarik, apalagi kalo adaptasi dari novel biasanya ada ekspektasi tersendiri saat nonton.

  17. Kalau soal keuangan bisa difilmkan dan orang paham, itu akan lebih berkesan
    Daripada baca buku yang bikin kadang sakit kepala apalagi tidak ada mentor
    Jadi pengen deh nonton

  18. Wah ternyata film Home Sweet Loan ini diangkat dari sebuah novel ya
    Aku baru tahu
    Menarik juga ya ceritanya
    Seru banget kalau bisa nonton film bareng plus bisa ketemu langsung dengan pemainnya
    Pasti jadi pengalaman yang sangat berkesan ya

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Scroll to Top