Trisno: Memajukan Desa Tanon dengan Memaksimalkan Potensi Wisata

Berawal dari niat ingin memajukan desa tempat Ia dilahirkan serta dibesarkan, Trisno sudah berhasil menjadi seorang Sarjana, kemudian ia memilih kembali pulang untuk membangun Desa nya, “Sekolah untuk kembali, potensi di sekitar sangat banyak. Ingin merubah stigma, jika bekerja di luar daerah adalah hal yang Wah, padahal potensi di desa nya pun sangat banyak” Kurang lebih seperti itu ungkap Trisno saat ngobrol oleh Deva Mahendra sumber https://www.youtube.com/watch?v=jmoqI47wvT4. Trisno, Pria kelahiran, Desa Ngrawan, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang 12 Oktober 1981, memiliki impian yang sangat mulia yaitu memajukan Desa Tanon melalui memaksimalkan potensi wisata yang di miliki oleh desa itu sendiri, tentu nya dengan usaha dan upaya yang luar biasa. 

Desa Tanon sendiri, sebetulnya sebagian besar warga Dusun Tanon ialah para peternak sapi perah dan juga petani. Akan tetapi Trisno melihat, ada potensi laun yang bisa membuat desa nya lebih berkembang, maka Ia memilih fokus mengembangkan dusunnya dengan beralih ke pariwisata. Terobosan yang Ia lakukan dengan mengajak para warga untuk sadar wisata dan mengolah dusun mereka menjadi dusun wisata. Potensi keindahan alam, udara yang sejuk, asri sangat potensial menjadi sebuah tempat wisata, untuk orang-orang yang ingin berlibur, merasakan kesejukan, jauh dari keramaian dan hiruk-pikuk kendaraan. Serta bagi wisatawan yang ingin menyaksikan tarian dari Desa Tanon.  

Wisatawan yang berkunjung ke Desa Menari akan disajikan keindahan alam, kesejukan udara, serta  berbagai kesenian di antaranya penampilan tari Topeng Ayu, Kuda Debog, Kuda Kiprah dan Warok Kreasi yang dibawakan penduduk dari orang tua hingga anak-anak. Tentu sangat menarik ya, serta ada unsur kebudayaan di dalam nya. 

Dalam proses nya tentu ada beragam rintangan yang menerpa setiap memulai perjuangan, apalagi saat pertama, seringkali Desa Tanon kurang di kenal oleh khalayak, maka dari itu Trisno membuat sebutan Desa Tanon sebagai “Desa Menari”. Kenapa diberi nama “Desa Penari?” Karena sebagian besar warga Desa Tanon memiliki jiwa seni yang tinggi, terutama menari, jadi Trisno sang Kreator dengan tangan pola pikir dan kreativitas nya memilih nama  Desa Menari, Desa Menari akan lebih mudah diingat dan dikenang oleh para wisatawan. Sehingga menjadi sebuah ciri khas.

Selain menyajikan seni tari, desa Tanon juga bisa membuat pengunjung merasakan aneka permaian desa Atau Dolanan Ndeso, misalnya : serok mancung, pipa bocor, tangga manusia dan Toya gila. Semua itu merupakan permainan tradisional dengan menggunakan alat-alat sederhana, serta merupakan permainan turun-menurun dari leluhur yang sudah semesti nya dirawat dan dipertahankan sebagai sebuah warisan kebudayaan.

Bagi pengunjung yang ingin berwisata alam, bisa menikmati kesejukan alam serta merasakan suasana pedesaan yang asri dengan berkeliling di lereng Telomoyo. Bagi yang suka dengan wisata air, bisa mengunjungi air terjun dan bagi yang suka kebudayaan bisa mengunjungi Prasasti Ngrawan.

Kemudian keahilan Trisno dalam memandu outbound, rupanya menjadi batu loncatan dalam membangun desa wisata. Pasalnya, kerap ditelepon kliennya untuk memandu outbond di luar kota seperti Tawangmangu merubah pikiran Trisno untuk memanfaatkan keahlian yang dimilikinya untuk membangun desa sendiri. Alhasil, lahirlah outbound ndeso yang lokasinya di Dusun Tanon dengan melibatkan warga setempat. “Berkah outbound ini mampu membuka lapangan pekerjaan bagi warga setempat dan dalam tiga tahun perjalanannya, desa wisata ini sudah menghasilkan Rp 250 juta, itu belum termasuk pendapatan perorangan dari hasil penjualan produk warga,”kata Trisno. (Sumber klik disini)

Jika pengunjung memiliki waktu luang yang lebih banyak, ingin merasakan the real kehidupan di Desa Tanon, bisa juga menginap di rumah-rumah penduduk, mengikuti ragam kegiatan harian warga, seperti bercocok tanam, memetik hasil pertanian, mencari rumput untuk makan ternak, memberi makan hewan ternak dan kegiatan harian lain nya.

Tidak sampai disini saja, Trisno terus berupaya menyajikan beragam kegiatan baru, dengan banyaknya pekerjaan yang dapat dilakukan di Desa Tanon. Trisno sangat berharap para pemuda tidak lagi menjadi buruh di tempat lain, melainkan bisa bekerja di desa nya sendiri, Desa Tanon.

“Dusun yang dulu nya sangat terbelakang kini sudah mulai di kenal luas” Ujar Pak Suiman selaku tokoh agama di Desa Tanon. Kemudian, Kepala Desa Ngrawan mengungkapkan rasa bahagia nya, karena terdapat peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) di Desa Tanon. Trisno menginspirasi dan memotivasi warga desa untuk mengecam pendidikan lebih tinggi.

Impian, niatan mulia, diterapkan dengan keilmuan yang mumpuni, menjadi sebuah karya yang sangat berdampak positif bagi kehidupan warga desa Tanon, semakin meningkatkan taraf perekonomian warga, anak-anak bisa mengenyam pendidikan lebih baik dan tinggi. Tentu menjadi salah satu kemajuan yang sangat tampak nyata. 

Mengenali dan menggali potensi yang ada di sekitar kita, kemudian mau membuat sebuah perubahan melalui aksi nyata, walau pun akan ada hambatan, rintangan serta tantangan, semua akan berbuah manis jika didasari kesungguhan dan niat yang kuat. Yuk langsung cek potensi yang di miliki sama tempat tinggal kita, siapa tau bisa di gali dan di maksimalkan sehingga menghasilkan sebuah terobosan yang berdampak positif.

Yuk Subscribe!

Dapatkan artikel-artikel terbaru dari Mbak Lala langsung ke inbox kamu. Caranya cukup dengan isi kolom berikut dengan alamat email kamu yaach...

Bergabung dengan 5 pelanggan lain

14 Tanggapan

  1. ya ampuun kreatif dan visioner bangetttt
    pastinya dr industri kreatif kyk pariwisata ini bs memberikan multiplier effect yg luaarrrr biasa.

    salutttt bgt , bs menjadi inspirasi millennial dan gen z iniiii

    1. Alhamdulillah yaa ada pemuda seperti Mas Trisno yang peduli terhadap perkembangan desanya dan membuat desa wisata. Dengan desa wisata maka masyarakatnya juga makin maju dan mandiri finansial. Jadi pengen traveling ke sana juga.

  2. Eh Ini ga jauh dari Tawangmangu ya mba? Tawangmangu mah dekat dengan kampung suami di solo, tapi aku jadi tahu desa Tanon ini setelah baca tulisan mba. Mungkin kalo mudik lagi ke solo, bisa aku visit desa Tanon nya

    Naah, kalo dijadiin desa wisata, pasti turis bakal banyak yg kesana, apalagi kalo memang lokasinya sejuk, banyak wisata alam dan budaya. Aku sendiri kalo udah denger wisata alam sejuk, langsung tertarik kok. Udh gerah Ama jakarta, jadi pasti nya LBH nyari yang adem dan ga bikin pusing suasananya 😄

    1. Kalau cek maps lumayan dekat ya Mbak..desa Tanon menarik untuk di explore ya, apalagi menyuguhkan keindahan, keasrian dan kesejukan alam.
      Pastinya bakalan dapet banyak pengalaman menarik, kalau liburan ke desa Tanon

  3. Keren ya Mas Trisno, sangat menginspirasi dan idenya dalam memajukan Desa Wisata Tanon pastinya membantu mensejahterakan kehidupan warga atau masyarakat di sekitarnya, perekonomian meningkat, kehidupan masyarakat menjadi lebih baik

  4. Aku pernah ke Desa Menari dan berkenalan dengan Kang Trisno memang orangnya ulet, kreatif dan berdedikasi tinggi terhadap desanya. . Mereka bisa survive melewati masa pandemi

  5. Bersyukur ada Mas Trisno yg visi.misinya jelas untu kemajuan desanya terutama dalam sektor pariwisata. Dengan daya kreativitas dan inovasinya, desanya menjadi banyak dikunjungi wisatawan.

  6. Keren ya masih ada sosok pemuda seperti Trisno ini yang setelah sarjana memilih pulang kampung untuk membangun desanya. Sangat inspiratif juga kisahnya ini karena beliau bisa membaca potensi desanya dan mengubahnya menjadi desa wisata. Dengan itu ia bisa membuka lapangan kerja baru bagi warga desa dan menambah pendapatan desa yang bahkan udah mencapai 250 juta

  7. Menginspirasi sekali.
    Bener-bener from zero to hero. Karena kini Desa Tanon semakin hidup, semakin ramai dan menjadi ladang mata pencaharian penduduknya juga.
    Salut banget sama idenya mas Trisno.

  8. Bener2 semangat yang luar biasa ya, untuk bisa bergerak seperti itu pasti nggak mudah loh.. respek buat mas trisno yang udah bisa bikin desa Tanon jadi keren banget gitu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.